Setelah aq tamat dan diinyatakan lulus dari SMA, hatiku senang tak karu-karuan. Impianku untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi semakin menggebu-gebu. Aq terbayang akan cita-citaku. Alangkah bahagianya aq saat itu.
Sebulan setelah pengumuman lulus, aq berangkat ke kota untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Waktu itu aq berangkat dengan saudaraku laki-laki dan tiga orang teman satu kampungku. Tujuan kami berlima sama yakni untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Kami berlima sangat semangat dan optimis bisa masuk perguruan tinggi.saat itu aq sangat berharap bisa masuk STAN. Sejak masuk SMA aq menyukai pelajaran B.Inggris dan ekonomi/akutansi. Dan kedua pelajaran itu sangat mendukung untuk bisa masuk sekolah tersebut. Aq optimis banget bisa masuk sekolah itu apalagi waktu SMA aq termasuk siswa berprestasi di sekolah. Aq juara I di kelas sekaligus juara I paralel di sekolahku waktu kelas II dan III SMA. Aq juga pernah meraih juara I olimpiade ekonomi se-kabupaten.
Hanya saja saat itu,diantara kami berlima hanya aq sendiri yang ngambil jurusan IPS (ilmu social), mereka berempat ngambil jurusan IPA (ilmu alam). Mereka sering diskusi bareng, mereka mengikuti bimbingan belajar. Pokoknya setiap hari mereka selalu sama. Beda dengan aq, setiap hari aq belajar sendiri, aq ga ikut bimbingan belajar karena aq ga punya teman untuk ikut bimbingan waktu itu. Karena tiap hari di rumah aja, aq ketinggalan informasi ternyata pendaftaran untuk ikut ujian STAN udah tutup. Aq sangat kecewa, pengen nangis rasanya waktu itu. Seandainya bisa hari itu juga aq pengen balik ke kampong dan gak ingin ikut ujian SNMPTN lagi. Tapi karena kakak, abang, dan orangtuaku aku terpaksa harus mengikuti ujian itu. Aq gak pernah lagi belajar, tiap hari kerjaanku tidur dan liat-liat kakak ku kerja di salonnya.
Pada tanggal ujian yang ditentukan, Kami pun mengikuti ujian tersebut. Hari pertama aq ujian, perasaanku biasa-biasa saja tak seperti peserta ujian lainnya yang semuanya Nampak serius sekali membahas soal-soal yang dibagikan panitia. Aq santai-santai saja memjawab soal-soal itu. Sekali baca terus jawab tanpa ada pertimbangan apa-apa. Yang ada dipikiranku saat itu adalah “yang penting selesai, lembar jawaban berisi semua”. Benar atau tidak itu urusan belakang. Demikian juga hari kedua, tak beda jauh dari hari pertama.
Waktu abangku menanyakan pengalamanku waktu ujian, aq berpura-pura menjawab dengan serius kalau aq kesusahan waktu jawab soal. Ku bilang aja kalau soal-soalnya sulit dan lagi membingungkan. Aq pura-pura khwatir gak bisa lulus.
Dua minggu setelah ujian, keluarlah pengumuman hasil ujian. Saat itu aq tak perduli, teman-temanku ujian tadi sudah pada pulang kampung. Hanya aq yang tetap tinggal di medan, aq menginap di rumah saudaraku yang perempuan. Saudaraku ini udah menikah dan udah punya dua anak. Aq disuruh tinggal di sana biar bisa sekaligus belajar salon. Karena saudaraku ini buka salon di rumahnya. Waktu itu aq gak melihat pengumuman, aq tidur aja di rumah.
Sore harinya saudaraku yang dikampung menelfon aq, dia ternyata udah ngeliat pengumuman. Lalu dia nanya aq lulus apa gak, dengan santai aq bilang kalau aq tidak menang. Dia lalu ketawa, terus dibilangnya kalau aq bercanda. Aq coba meyakinkan dia tapi dia ga mau percaya, disuruhnyalah aq liat Koran. Rupanya siap nelfon suami kakakku pulang dari kantornya dan lansung manggil aq sambil bawa Koran di tangannya. Dengan senyum di salamnya aq, ditunjukkannya namaku di Koran itu. Ternyata aq diterima di salah satu PTN di Medan. Aq terkejut, heran dan bahagia. Pokoknya nano-nano lah prasaanku waktu itu. Setelah kuperiksa ternyata benar, disitu tertulis namaku dan nomor ujianku. Dan aq di terima di UNIMED Fakultas Ilmu Sosial jurusan P.Sejarah.
Aq agak ragu juga saat itu, mau kuambil atau ku biarin aja. Tapi orangtua di kampong menasehati aq dan menganjurkan agar aq ambil aja tuh jurusan. Karena kesempatan gak datang dua kali. Aq pun pasrah dan terima aja anjuran mereka dan kemudian pergi ke UNIMED untuk daftar ulang.
Kala itu aq masih baru menginjak bangku kuliah, aq belum tahu apa-apa dan bagaimana situasi kehidupan di kampus. Waktu itu aq nyerah banget, aq gak kuat ngejalanin semua peraturan di kampus itu. Banyak banget yang harus diurusi, belum lagi jarak kampus ke rumah kakak ku yang lumayan jauh, angkotnya lagi sangat terbatas, udah gitu jam 8 udah harus sampai di kampus. Pokoknya tersiksa bangetlah prasaanku saat itu.
Aq juga belum kenal betul dengan kota Medan. Sifat kekanak-kanakan dan kebiasaan-kebiasaan dari kampong masih terbawa-bawa. Apalagi status sebagai anak bungsu yang terbiasa di manja masih sangat melekat dalam diriku. Aq masih sangat lugu dan tak tahu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Aq bertindak seperti yang biasa kulakukan di kampung. Aq tak biasa hidup mandiri.
Setiap hari aq bangun kesiangan, setelah itu bersantai-santai terus mandi. Aq tak peduli dengan orang-orang di sekelilingku yang resah dengan kelakuanku. Kubiarkan saja mereka melakukan aktivitas mereka dan aq dengan aktivitasku. “masa bodoh” hanya itu yang ada di dalam pikiranku.
Rupanya kakakku mulai tak suka dengan kelakuanku yang masa bodoh, dia jadi jarang berkomunikasi dengan aq, dia tak pernah menanyakan masalah-masalahku di kampus, dia selalu sibuk dengan kerjaannya. Aq pun mulai tak merasa nyaman tinggal dirumah itu, kakak ku sering emosian, marah-marah tak menentu. Apalagi keadaannya yang masih menompang di rumah mertuanya.
Satu semester sudah kujalani di bangku kuliah, sungguh masa yang sangat lama bagiku. Banyak hal yang membuat diriku berubah. Namun, aq merasa diriku adalah seorang pribadi yang baik.kebiasaan-kebiasaanku belum bisa hilang.
Tepatnya liburan semester sekaligus natal dan tahun baru, aq pulang ke kampong. Demikian juga dengan kakak ku sekeluarga, mereka juga pulang pada malam tahun baru. Pada saat itulah aq ngerasa sedih banget. Pada malam itu semua anggota keluarga kami berkumpul untuk melaksankan kebaktian akhir tahun. Setelah kebaktian selesai, kami bersalam-salaman dan saling memafkan satu sama lain. Sesudah acara selesai semua kwan-kawanku berdatangan ke rumah, kami pun ngobrol di ruang tamu, tertawa dan saling ngeledek. Tiba-tiba aq dipanggil kakakku dan aku pun menemui mereka.
Setelah duduk di samping mama ku, kakak ku lalu ngomong dan dia bilang kalau nti aq dah balik ke Medan, aq gk tinggal di rumahnya lagi. Aq disuruh ngekost. Aq sangat kaget, trus dia ngejelasin kalau keputusannya itu diambil bukan karena dia tak suka sama ku, tapi karena sifatku yang gak peduli apapun dan yang lebih parah lagi dia bilang kalau gara-gara aq dia sering berantam dengan suami dan mertuanya. aq makin sakit hati, aq tak terima atas tuduhannya. Aq langsung nangis dan spontan menjawabnya kalau aq setuju banget ngekost. Dan aq berjanji dalam hati kkalau aq gak akan pernah menginjakkan kkakiku lagi di rumah itu. Mamaku berusaha menenangkan hatiku, tapi aq dah gak sanggup lagi menahan air mataku. Aq sungguh tak menyangka kalau kakakku akan berkata seperti itu. Mamaku pun seolah-olah percaya sama semua perkataan kakakku itu dan ia pun menasehati ku banyak hal. Kemudian mamaku memutuskan agar aq tinggal di rumah kakak ku yang pertama yang kebetulan rumahnya juga dekat dengan rumah kakakku yang tadi. Aq ngerasa senang karena aq lebih kompak dan lebih bisa terbuka sama kakakku yang pertama ini. Dan kakakku itu pun setuju. Tetapi tiba-tiba suami kakakku yang tukang salon tadi ngomong dan meminta agar aq tidak usah pindah. Ntah apa alasannya aq tak tahu. Yang jelas waktu itu aq langsung perggi menemui teman-temanku, dan mereka kutinggalkaan masih terus membicarakan masalah itu. Aq kurang tahu apa saja yang mereka bahas slanjutnya. Dan keputusannya aq harus tetap tinggal dirumah kakakku itu juga sampai sekarang
